Tetap Aman, Beraktivitas di Pasar Tradisional Jogoboyo, Jogo Tonggo, Memutus Penularan COVID-19

INFO FAKULTAS

Sepenggal doa

Kalis ing rubeda nir ing sambikala” adalah sisipan kalimat doa yang sering diucapkan oleh masyarakat Jawa disaat mengawali atau menutup pembicaraan, pesan dan tulisan. Kalimat yang bermakna doa terhindar dari masalah dan dijauhkan dari kesulitan dan penyakit.

Bagaimana Novel Coronavirus penyebab COVID-19 ditularkan?

Hasil penelitian menyatakan bahwa virus corona SARS-CoV-2 adalah penyebab wabah menular yang dikenal sebagai Covid-19. Penularan SARS-Cov-2 terjadi melalui percikan air (droplet) yang keluar dari mulut penderita dan masuk ke mulut, hidung atau mata melalui tangan yang terkontaminasi. Sejauh ini belum ada penelitian yang menguatkan bahwa penularan wabah ini ditularkan melalui makanan. Salah satu cara memutus penularan ini adalah menghindarkan diri dari keramaian atau berkumpul banyak orang.

Tetap aman berbelanja di pasar tradisional?

Banyak pandangan di masyarakat yang mengatakan bahwa pasar tradisional adalah tempat berpotensi terjadinya penularan COVID-19. Namun faktanya pasar tradisional tetap memiliki daya tarik sebagai tempat beraktivitas dan berbelanja.

Sebagai tempat favorit, sepatutnya bahwa kita tidak sedang dalam kondisi mengalami gejala seperti demam atau batuk disaat pergi ke pasar, sehingga tidak berpotensi menularkan virus kepada orang lain.  Awali aktivitas berbelanja dengan membuat daftar belanja atau kebutuhan dan mengenali tempat penjual yang dituju. Hal ini akan mempersingkat waktu kita di area keramaian. Gunakan tas/keranjang dan trolly sendiri untuk memastikan keamanan dan meminimalkan penumpukan sampah plastik di rumah.

Untuk mencegah potensi terjadinya penularan, patuhi protokol kesehatan yang berlaku di area tersebut. Upayakan selalu menjaga jarak, hindari kemungkinan kontak fisik, memakai masker, gunakan kacamata pelindung praktis (goggles) dan hindari menyentuh area wajah kita. Lakukan sesering mungkin mencuci tangan dengan hands sanitizer setiap kali kita menyentuh barang dan setelah membayar barang belanjaan. Dengan demikian kita telah memastikan beraktivitas dengan aman.

Walaupun belum banyak ditemukan di pasar tradisional. Saat ini banyak penjual menawarkan layanan antar belanja ke rumah pelanggan melalui pesan singkat pendek. Hal ini menjadi ide dan pilihan menarik praktik berbelanja aman bagi orang dewasa rentan.

Menyimpan barang belanjaan di rumah?

Hal yang perlu dipahami disaat kita akan menyimpan barang belanjaan. Berdasarkan penelitian terbaru, bahwa SARS-CoV-2 mampu bertahan di permukaan atau benda hingga 72 jam dan tetap berpotensi menular, namun menjadi tidak aktif (tidak menular) setelah 24 jam pertama.

Bersihkan barang belanjaan tersebut dan bilas sayuran dan buah-buahan sebelum dilakukan penyimpanan. Buanglah tas belanjaan sekali pakai ditempat sampah, namun bila menggunakan tas pakai ulang, pastikan kita telah menyemprotkan disinfektan sebelum menyimpannya kembali. Setelah aktivitas ini selesai, segera cuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik, atau gunakan pembersih tangan yang mengandung setidaknya 60% alkohol.

Jogoboyo, Jogotonggo sebagai kearifan lokal di masyarakat

Dalam struktur perangkat desa jaman dulu, khususnya di wilayah Jawa, istilah perangkat Jogoboyo sangat populer di mata masyarakat dan dipergunakan dalam peristilahan harian. Seperti halnya struktur perangkat desa modern, Jogoboyo adalah salah satu perangkat yang bertanggung jawab dalam bidang keamanan dan ketertiban desa, Selain menjaga stabilitas keamanan desa dengan cara menindak lanjuti peristiwa pageblug, perjudian, miras, narkoba maupun tindakan asusila.

Jogoboyo dalam kamus bahasa jawa terdiri dari dua kata ‘Jogo’ berarti menjaga dan ‘Boyo’ berarti bahaya, yang berarti pamong desa dengan tugasnya menjaga keamanan dan ketertiban desa. Didalam perjalanan waktu pemaknaan Jogoboyo telah meluas dan berarti sikap dan atau tindakan seseorang yang peduli terhadap kondisi sesama dalam situasi apapun, atau sikap seseorang karena keiklasannya berupaya saling menjaga situasi sesamanya.

Demikian halnya Jogo tonggo, pemaknaan dalam bahasa jawa mengandung dua kata yaitu: ‘Jogo’ artinya menjaga, sedangkan ‘Tonggo‘ artinya tetangga, yang berarti menjaga orang terdekat yang berada disekitar kita. Seperti yang telah digulirkan oleh Gubernur Jawa Tengah, dalam pelaksanaannya ‘Jogo Tonggo‘ mencakup dua hal, yaitu jaring pengaman sosial dan keamanan, serta jaring ekonomi.

Merujuk pada pemaknaan dua istilah tersebut, kepedulian seseorang untuk saling mengingatkan adanya bahaya dan berjaga-jaga bagi tetangganya merupakan sikap respek dan empati terhadap kondisi apapun. Pemaknaan Jogoboyo yang berarti saling mengingatkan akan adanya bahaya yang mengancam disekitar kita dan mematuhi protokol kesehatan sekaligus sebagai refleksi tindakan Jogo tonggo. Kedua sikap ini menjadi sangat relevan dengan situasi dan kondisi saat ini, nilai kearifan lokal sebagai pendekatan yang diperlukan untuk memutus rantai penularan wabah COVID-19 di sekitar kita.

Semoga sepenggal doa yang diajarkan oleh para sesepuh kita, Kalis ing rubeda nir ing sambikala selalu bersama dengan kita.

Penulis : Kristiyanto Widiyawan

Mahasiswa Program Studi S3 Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana UNS

Leave a Reply

Your email address will not be published.