BPH LITERASI BEM FKM UMJ | Koordept KASTRAT BEM FKM UMJ – Dewi Wulandari

BEM

Jakarta, 5 Juli 2021 – Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

“BERPIKIR KRITIS KECAKAPAN HIDUP DI ERA DIGITAL oleh KASDIN SIHOTANG”

Aristoteles dalam ungkapan latinnya berbunyi, homo est animal rationale, artinya manusia adalah binatang yang berpikir, yang membedakan manusia dari makhluk hidup lain khususnya binatang adalah kemampuan berpikir. Kualitas manusia terletak pada tingkat pemanfaatan akal budinya, bukan pada pemuasan yang cenderung naluriah atau keinginannya. Semakin manusia diterangi akal budinya, semakin manusiawilah dia, ini merupakan hakikat mendasar manusia.

Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tidak saja meningkatkan kesejahteraan dan intensitas komunikasi, tetapi juga menyebabkan perubahan pola pikir. Pada zaman sekarang kita dituntut terus menerus untuk berfikir secara radikal untuk memiliki cara berfikir yang lebih adaptif dan lebih peka terhadap keanekaan. Kita juga di tuntut untuk belajar dan terus berkreasi serta memikirkan secara baik dan matang keputusan kita.

Richard Paul dan Linda Elder secara lengkap menderetkan situasi dunia yang sedang kita hadapi sekarang yang berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Pertama, pengetahuan atau data yang diperlukan dalam dunia pekerjaan tidak lagi dapat diprediksi. Kedua, berkuanya teknologi dan timbulnya cara berfikir simplistic tentang isu isu yang kompleks, seperti kriminalisasi, kehampaan toleransi, dan kejahatan remaja. Ketiga, kuatnya media massa nasional menguasai pikiran masyarakat. Keempat, hilangnya kekuatan privasi akibat teknologi yang ada. Kelima, situasi tanpa control dari kekuatan global yang mengarah pada situasi dan menjauhnya pencapaiannya pengambilan keputusan yang bermutu dan mempengaruhi hidup kita. Keenam, ideology – ideology yang semakin kuat melayani kepentingan kelompok tertentu dan sedang bergerak maju dalam kampanye media yang mahal. Ketujuh, meningkatnya advokasi yang menggunakan kekerasan dan mengatasi ketidakadilan yang ada. Kedelapan identifikasi diri dalam perangkap gerakan mempertentang ideology.

Ketika orang hanya aktif bekerja tanpa berusaha menemukan kebenaran, orang itu akan dengan mudah kehilangan orientasi dan jatuh pada kekeliruan. Sebaliknya, orang yang terus mencari kebenaran dan mampu bertahan hidup dan akan meraih kesuksesan. Ini merupakan kecakapan hidup yang dibutuhkan di era globalisasi ini. Dengan berpikir kritis seseorang justru tidak mudah tenggelam dalam keyakinan, ideology, asumsi, keinginan yang tidak teruji, melainkan menguji dan mengkajinya. Kemampuan berpikir kritis memberdayakan kita seseorang untuk melihat sisi positif dan sisi negatif segala sesuatu yang dihadapinya sebelum menerima atau menolak.

Realitas yang tidak terbantahkan pada manusia millenial adalah pemanfaatan teknologi, khususnya teknologi komunikasi secara meluas dan massif. Pemanfaatan itu tidak lagi mengenal sekat sekat social seperti tingkat pendidikan dan kondisi ekonomis serta strata social. Namun, ketiadaan sekat sekat itu membawa implikasi yang tidak sedikit bagi dimensi mendasar manusia pada zaman sekarang, khususnya pada pola pikir.

Manusia sekarang semakin teralienasi dari eksistensi nya sebagai makhluk yang bebas, makhluk berpikir dan makhluk social dan bahkan sebagai makhluk yang bermoral. Dependensi absolut pada teknologi, tumbuh suburnya egoegosentriasme, kolektivisme yang merajalela, penafian standar standar universal sebagai pegangan dalam penilaian perbuatan, bangkitnya asumsi asumsi yang tak teruji akan akibat hilangnya daya nalar, membuat manusia di zaman millenial ini kehilangan hakikatnya sebagai makhluk yang berpikir.

Dewey menekankan karakter kritis pada keaktifan seseorang dalam berfikir. Orang berfikir kritis tidak diam dan tidak menerima begitu saja apa yang didapat dari luar dirinya, melainkan penyaringannya. Dan orang yang tidak berfikir kritis gampang menerima sesuatu dan membuat orang mudah terbawa arus dan orang seperti itu mudah kehilangan orientasi dan akan menjadi objek gilasan perubahan global.

Berpikir kritis merupakan ungkapan manusia untuk mengembangkan diri selain itu mempunyai manfaat dalam berbagai bidang, bagi mahasiswa berpikir kritis mengembangkan kemampuan untuk mengerti, mengontruksi dan membentuk argument yang lebih baik dan bagi masyarakat umum berpikir kritis dapat meningkatkan kemampuan mengatasi masalah. Dan mengkomunikasikan ide ide secara jelas dan efektif dalam pekerjaan. Pola pikir ini dapat mengatasi kekeliruan dalam pengambilan keputusan pribadi.

Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *